Kamis, 14 Januari 2021

Menulis Profil Teman

 


#KamisMenulis

Kali ini adalah kegiatan Kamis Menulis ketiga yang saya ikuti. Tantangan kali ini berbeda, saya satu kelompok dengan Ibu Sumarjiyati. Awalnya malu bertanya. Alhamdulillah, ibu mengirim pesan. Mohon maaf baru menjawab pesan di pagi hari. Berikut hasil tulisan saya mengenai profil beliau. 




Sumarjiyati, S.Pd.I. 

 

Lahir 39 tahun silam tepatnya 27 Agustus di Gunungkidul. Memiliki keluarga kecil dengan satu putra dan satu putri. Panggilan sayang saat kecil adalah “Atik”.

Ibu yang hobi membaca dan menanam ini selalu mengembangkan kemampuan menulisnya. Belajar menjadi sebuah keinginan yang besar saat bergabung dengan Belajar Menulis Bersama Om Jay pada gelombang ke-8. Bulan Oktober beliau menjadi anggota AISEI dan bergabung pada Komunitas Lagerunal pada Desember 2020. Menulis baginya adalah bagian terpenting dalam hidup. Menulis beliau bisa merasakan bahagia, dapat berbagi dan memberi inspirasi.

 Ibu Atik menghabiskan waktu kecilnya bersama ibu dan bapak. Melalui pendidikan formal di MI Yappi Banjaran dilanjutkan SMP dekat rumah ibunya. MAN 1 Wonosari, GK, DIY menjadi tempat selanjutnya menimba ilmu hingga menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah, DIY.  Beliau ingin sekali menjadi guru dan bisa mengisi kegiatan di masjid dekat rumah ibunya. Cita-citanya menjadi guru terwujud berkat jasa ibu dan bapak” serta keluarga. Terutama ibunya yang selalu sabar mendampingi dan selalu memberikan doa tulusnya.

Sejak tahun 2001 mengabdikan diri sebagai guru honorer di salah satu MI swasta di Kecamatan Paliyan Gunungkidul. Setelah 7 tahun mengabdi, beliau diangkat sebagai CPNS dan di tugaskan pada SD N Gedangan I, Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul. Walupun diangkat pada 2008, SK PNS baru beliau terima 2010. Tahun 2014 mengajukan mutasi ke SD N Karanganyar dan SK baru didapat bulan Mei 2015. Sejak tahun 2015 sampai sekarang masih bertugas di SD N Karanganyar sebagai Guru PAI. Selain sebagai guru beliau juga menjadi Korcam KKG-PAI Kecamatan Gedangsari tahun 2018 -2022.

 Prestasi yang pernah di raih oleh Ibu Sumarjiati antara lain:

Tahun 2019 Juara 1 Guru prestasi Tingkat Gugus Ngalang, Gedangsari

Tahun 2020  Guru Prestasi Tingkat Kecamatan menuju tingkat kabupaten. Kegiatan ini terhenti karena wabah corona. Hingga kini belum ada kelanjutannya.

Moto kesuksesan beliau,  Jangan takut salah untuk mencoba, lakukan yang bisa di lakukan hari ini. Dream Big Set Goals Take Action.

Selama mengikuti pelatihan menulis di akhir bulan Maret tahun 2020 telah berhasil menulis beberapa buku antalogi :

1.     Mencermati Potret Pendidikan Era 4.0

2.     Moment  Special sang Guru

3.     The Meaningful True Stories

4.     Pelangi Hati

5.     Kobaran Semangat Ngeblog

6.     Surat Untuk Ibu

7.     Semesta Merestui

8.     Kisah Inspirasi Sang Guru

9.     Zulmat

10.  Menulis Membangun Masa Depan

11.  Pola Pembelajaran yang Efektif Dari Rumah

12.  Bapak Aku Mencintaimu

13.  Oktober Bermakna

14.  Senandung Guru

15.  I’am Jealous Of The Rain

16.  Di Celah Senja

17.  Untukku

18.  Kharisma Bunda Mulia ( Antologi Puisi)

19.  Detik Pertama Jatuh Cinta

Sumarjiyati, dapat di hubungi melalui WA 08112776583 atau email daffakanu@gmail.com dan  dapat berkunjung ke blog penulis 

81-atik.blogspot.com

FB Atik Suripto

IG: @atik_suripto


Silakan lihat juga profil saya yang dibuat oleh Ibu Sumarjiyati.

             Klik tautan berikut:  Profil Dwi Yulianti


Selasa, 12 Januari 2021

Belajar dan Belajar Lagi



#SelasaBerbagi

Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih kepada semua penggagas, admin, dan anggota grup yang mengizinkan saya bergabung untuk belajar ngeblog. Pada awalnya saya khawatir jika saya tidak bisa aktif di grup, selain masih belajar saya juga memiliki aktivitas lain yang sudah berjalan. Jawaban Pak Brian membuat saya sedikit lega dan memutuskan bergabung. Kamis Menulis, 31 Desember 2020 adalah tulisan pertama saya di blog ini, walau sudah pernah mencoba pada Juli 2019 namun, tak ada tulisan yang tergores pada blog saya.

Hari ini ada kegiatan Selasa Berbagi. Saya bisa belajar kembali bagaimana menulis yang baik. Walaupun masih ada kegiatan lain, namun tetap berusaha membaca setiap pesan yang dituliskan Pak Brian pada grup whatsApp “Cakrawala Blogger Guru”. Dari tiga penjelasan yang dituliskan. Saya tertarik dengan "Beda Word dan Blog". Kesalahan yang saya lakukan saat copas dari word ke halaman blog, kini sudah saya mengerti. Kuncinya adalah yang bisa di copas hanya tulisan saja tanpa pengaturan.

Penjelasan pertama, memberikan motivasi untuk menulis. Ibaratnya, menulis adalah sebuah tantangan pada diri sendiri. Jika berhasil menulis, maka lega rasanya. Penjelasan terakhir adalah bagaimana membuat tulisan lebih enak di baca. Penggunaan tanda baca dan kalimat yang pendek, selalu menjadi kunci utama di setiap tulisan. Hindari kalimat majemuk, agar tulisan yang kita buat nyaman saat dibaca.

Belajarlah menuliskan kembali apa yang sudah dibaca. Setelah menjadi tulisan, baca kembali. Lakukan swasunting, sambil belajar kembali.

Semoga bermanfaat. Terima kasih Pak Brian atas materinya.

Kamis, 07 Januari 2021

Salah Angka Delapan

 


Dwi Yulianti

#KamisMenulis

 

“Tugas kali ini menjawab sepuluh soal yang ada di papan tulis. Waktunya satu jam. Kerjakan berkelompok, masing-masing 4 orang sesuai absen. Silakan,” jelas Bu Aminah mengenai tugas matematika hari ini.

          Aku langsung bangun menuju Hendra karena yakin pasti satu kelompok, dan menunggu dua teman lagi. Dwi dan Tari menghampiri kami. Aku bertanya dalam hati, memang mereka kelompok kami. Mataku menatap Hendra  seakan bertanya.

          “Hei! Ayo kita mulai diskusi,” ujar Tari pada Handi dan Hendra. Namun kedua teman mereka hanya diam saja.

          “Nama awal kita H,” ujar Dwi sedikit kesal.

          “Hestiana Dwi Utami.” Tari menyebut nama lengkap Dwi dengan kesal.

          “Aku, Hardiantari Putri. Masih bingung?”

          “Bukan. Bukan. Kaget saja akhirnya satu kelompok sama jagoan di kelas,” jawab Hendra seenaknya.

          Dwi dan Tari memang jago matematika. Namun mereka juga sedikit sombong. Nilai matematika saat ulangan saja tak pernah di bawah 90. Apalagi jika hanya latihan. Nilai 100 selalu tertulis dibuku mereka. Banyak yang iri dengan kepandaian mereka.

          Aku dan Hendra akhirnya duduk di kursi yang sudah disusun mengelilingi meja. Empat kursi kini sudah terisi. Mereka memulai diskusi kelompok.

          Tak terasa sudah tiga puluh menit mereka mengerjakan tugasnya, ada dua nomor soal yang didiskusikan agak lama.

          Mereka mendebatkan angka berbeda yang mereka tulis. Aku dan Hendra menulis “18 siswa gemar futsal”  pada soal nomor 7, sedangkan Dwi dan Tari menuliskan “16 siswa gemar futsal”. Akhirnya Aku dan Hendra mengalah.

          Soal nomor 10, mereka menuliskan angka yang berbeda juga. 798 dan 788.

          “Kali ini gantian dong. Tadi angka kalian yang dipakai. Sekarang angka kita.” Hendra sedikit memaksa agar angka yang digunakan adalah angka yang mereka tulis. Setelah sepakat maka angka yang digunakan adalah 798.

          Setelah semua selesai. Mereka menuliskan jawaban soal pada buku masing-masing yang nantinya akan dikumpulkan.

          “Waktunya sepuluh menit lagi.” Bu Aminah mengingatkan.

          Ucapan Bu Aminah bersamaan dengan selesainya mereka menulis jawaban di buku tulis. Aku dan Hendra langsung bangun dengan sedikit bangga karena menjadi kelompok yang selesai pertama. Mereka menyerahkan buku pada Bu Aminah, dilanjutkan Dwi dan Tari. Semua mata memperhatikan mereka sesaat. Karena siswa yang lain juga tak ingin kehabisan waktu menyelesaikannya.

          Mereka menunggu nilai yang akan dituliskan pada jawaban mereka. Aku yakin nilainya akan seratus.

          “Kelompok Handi. Silakan diambil bukunya. Untuk kelompok yang lain. Waktunya habis. Silakan dikumpulkan.”

          Aku berjalan ke meja Bu Aminah menerima buku yang diberikan. Sesampainya kembali ke meja tempat berdiskusi,  aku membagikan buku pada Hendra, Dwi, dan Tari.

          “Silakan beristirahat. Kita tutup pelajaran kali ini dengan membaca Alhamdulillah.” Bu Aminah segera beranjak dari kursinya dan berjalan ke luar kelas.

          Kami langsung membuka buku masing-masing untuk melihat nilai kami. Delapan Puluh.

          “Apa? Nomor 7 dan 10 salah.” Hendra berteriak sehingga teman-teman yang sedang berjalan ke luar kelas menengok pada kami.

          Nggak apa juga sih, ini adalah nilai paling bagus di pelajaran matematika.” Lanjut Hendra dengan suara yang sudah merendah volumenya. Teman-teman yang tadinya menghentikan langkahnya kini kembali melangkahkan kakinya keluar kelas.

          Aku lihat Dwi dan Tari juga diam tak bergerak melihat nilai di buku mereka. Aku berjalan ke arah papan tulis ingin melihat kesalahan yang kami buat.

          “Ha ha ha ...., kenapa angka delapan bisa ditulis jadi angka enam dan sembilan ya?” ucapku setelah aku melihat kesalahan yang kami lakukan.

          Hendra, Dwi, dan Tari menghampiri aku. Mereka melihat juga kesalahan yang telah  kami lakuan.

          “Ha ha ha ....” Akhirnya mereka tertawa bersama. Meletakkan buku di meja masing-masing kemudian berjalan mengikuti teman lainnya. Menuju kantin.

 

***

Jumat, 01 Januari 2021

Awal adalah Akhir

 



Sebuah langkah awal membayangi

Mendera begitu kencang

Tak terbendung

Datang.

 

Lelah

Menerjang hati

Seakan tak bertepi

Membuat hati menjadi beku.

 

Harapan dan mimpi hilang

Ditelan gelapnya malam

Menerpa siang

Sunyi.

 

Pergi

Sebuah ilusi

Namun kini pasti

 Gemerlap bintang akan diraih.

 

Awal adalah akhir yang telah selesai... Bismillah


Kamis, 31 Desember 2020

Tahun Penuh Perjuangan


Bismillah... Mencoba memulai menjadi anggota Lage... Mohon izinnya.


Kini penghujung tahun datang kembali

Membawa kabar harapan baru

Mimpi dan impian mengiringi

Tuk dituju dan diraih

 

          Dahulu saat tahun berjalan

          Kenyataan tak seindah impian

          Kerikil dan duri menjadi rintangan

          Tuk melangkah menuju harapan

 

Sebagian mimpi dapat diraih

Sebagian lain menghilang ditelan waktu

Menjadi kenangan yang dapat dipanggil kembali

Jika ingin menjadi kenyataan nanti

 

          Awal tahun merupakan semangat baru

          Untuk membuka catatan kisah lalu

          Kisah yang akan menjadi kenangan

          Namun dapat menjadi kenyataan

          Jika diberikan guyuran harapan

 

 

“Semoga tahun depan bisa belajar dan terus belajar...” Aamiin

Catatan akhir tahun 2020

DY

#KamisMenulis